Selamat
Datang di blog'Amrul.Sedikit tentang penjelasan tentang blog ini,karna ini merupakan
posting pertama,maka saya akan menjelaskan sedikit tentang blog'Amrul.Blog ini,merupakan blog sederhana yang bertemakan tentang
menulis,jadi di blog ini nantinya akan memberikan tulisan2 berupa cerpen2 dan ulasan novel2.Tip dan Trik membuat
tulisan yang menarik.dan juga tak akan ketinggalan informasi-informasi
lomba,dan juga info2 pengetahuan yang
uptudate buat sobat . buat sobat-sobat yang ingin membaca
cerita-cerita saya,silakan aja buka blog saya ini.blog'Amrul.dan mungkin buat
sobat-sobat yang ingin ngasih komentar,jangan segan-segan.ngasih aja.asalkan
untuk kemaslahatan.Dan untuk berbenah,no problem.oiya,Buat sobat2 mungkin
punya cerpen,atau info2pengetahuan bisa di kirim via email AMRULFAJRI@YAHOO.CO.ID,Nanti
cerpen atau tulisan yang sobat2 kirim akan kita posting di blog'Amrul.jangan lupa tu..
Jangan
lupa JOINNYA ya???
Atas kunjungan dan partisipasi sobat2, blog'Amrul
ngucapin terima kasih sebanyak-banyaknya.Untuk tulisan pertama saya punya
sebuah cerpen .karya saya.Nikmati aja persembahan dari saya.
ceki doot……
Emak
Oleh Amrul fajri
Kuhempaskan tubuh penatku di atas ranjang usang di kamar
sempit ini, mataku menerawang menatap langit-langit kamar,sudah duapuluh tahun
lebih aku berada disini.Berteman sunyi dan sepi,tampa senyuman dan tawa,aku
hanya sendiri disini,memeluk keresahan dan kegundahan yang lara.Disini, dikamar
ini,dirumah ini,dikota ini.Sudah lebih dua puluh tahun aku hidup tampa
bersuara,tampa bercanda,tampa kegirangan dan senyuman,paling aku hanya bisa
menjerit kesakitan ketika cambukan keras dan kasar itu mendarat di tubuhku,di betisku,dan
tak jarang juga aku dikurung berhari-hari tampa sesuap nasi dan seteguk air putih
untuk membasahi kerongkonganku yang kering keronta.
Sekarang aku berada dikamar ini,setelah kulayani majikanku
yang kasar dan arogan.Kini seluruh tubuhku terasa ngilu dan perih,setelah
beberapa menu sarapan yang dikasih tuan rumah kepadaku.Selama dua puluh tahun
lebih aku disini.Seingatku sarapan yang sering kuterima adalah,cambukan, dan
kata-kata kotor yang sering dilontarkan kepadaku saat tuan rumah tidak puas
dengan pekerjaanku.Padahal secara kasat mata aku telah melakukan seperti yang
diinginkan majikanku,tapi dimata mereka tetap juga ada yang salah.Disaat
kondisi seperti itu aku hanya bisa bersabar dan berdiam diri mendengar umpatan
kasarnya.
Kalau bukan atas permintaan emak untuk pergi kesini,tentu aku tidak akan pernah
melakukan hal koyol seperti ini,jauh
dari keluarga dan sanak saudara,tentu semua ini sangat membuat hatiku miris.Seringkali
aku menyalahkan sikap emak,bahkan tak jarang juga aku mengumpat terhadap sikap
emak yang menyuruhku pergi kesini.Dulu emak selalu berkata.
“Halimah,apa kamu tidak
mau nasib kita berubah?”
Begitu Tanya emak
ketika aku duduk diberanda rumahku yang jauh dari kesan sederhana.
“Emak,Halimah rasa
tidak ada seorang pun ingin nasibnya hanya di sawah,berteman bebek dan
berkubang dengan lumpur sawah,Halimah mau nasib kita berubah.”
“Kalau begitu pergilah
ke negeri sebrang,disana emak dengar-dengar banyak pekerjaan yang bisa mengubah
nasib kita”
“Tapi emak,Halimah
inginnya mencari pekerjaan di sini saja,bisa lebih dekat dengan emak”
“Halimah,dengan hanya
menjadi tukang nyuci dan nyetrika,tidak akan bisa mengubah nasib kita,emak
tidak mau kamu bekerja seperti itu lagi”
“Tapi Halimah akan cari pekerjaan yang lain”
“Mau dicari dimana
Halimah,disini tidak banyak lowongan pekerjaan.Selain jadi tukang nyuci,
nyetrika,dan kesawah.”
“Terus kalau Halimah
pergi kesana,Halimah mau kerja dimana,Halimah sama sekali tidak tahu negeri
orang”
“Halimah. Demi
emak,emak mohon kamu pergi!”
“Siapa yang jagain
emak?”
“ Allah” Jawab emak,
Tidak terasa air mataku mulai meleleh,bukan air mata
penyesalan dan marah terhadap emak,tapi air mata rindu, semakin lama semakin
deras.Andai saja aku punya Sayap,tentu akan ku kepak sayap-sayapku dan terbang
menemui emak.Akan kucium kening emak penuh ta’zim.Tapi sayang tubuhku kini tak
berdaya untuk melakukan itu,lebih tepatnya tidak mungkin.Apalagi kini genap dua
bulan aku sudah mengandung anak tampa ayah dirahimku.Sama-sekali aku tidak tahu
siapa yang melakukan ini terhadapku.Emak…Ah…tak ada yang perlu disalahkan, emak
sama sekali tidak bersalah,terlalu banyak dosa jika aku selalu menyalahkan
wanita yang mengandungku selama Sembilan bulan.Apalagi setelah aku dilahirkan,terlalu
banyak beban hidup yang ia pikul semenjak aku terlahir kedunia ini.Bahkan tak
mengurangi kemungkinan semenjak aku berada di rumah mewah ini.Ia sendiri,ingin
aku menjerit sejadi-jadinya.tapi tak mungkin kulakukan,kalaupun aku
melakukannya,tentu tidak ada jeda sedetik,majikanku akan kekamarku dan menamparku sekuat tenaganya hingga aku tak
sadarkan diri.
Aku tidak tahu sudah berapa lamakah aku disini,termangu sendiri,menatap
loteng-loteng kamar.Belum sedetikpun kupejamkan mata ini,rasanya terlalu berat
untuk terpejam.Apalagi perih ditubuhku tak kunjung hilang.
“Halimah….!!!!!” kontan
saja tubuhku terperanjat,itu suara Nyonya Arista.
Buru-buru kubuka pintu kamarku.Dengan wajah menunduk sambil
menahan perih,aku menghadap Nyonya Arista.
“A…a..ada apa
N.Nyo..Nyonya?”
“Dasar anak pelacur” Seketika
ingatanku terbayang wajah tirus emak yang sudah tua dan berkeriput.
“A..Apa S..Sa..Salah
saya Nyonya?”
“Apa masih kurang
jelas, apa kesalahan kau dugu?sekarang juga gugurkan kandungan kau itu”
“A..Apa??”aku kaget dengan
permintaan Nyoya Arista.Sebuah permintaan yang tidak mungkin kulakukan,meskipun
aku sendiri tidak mengiginkan anak ini lahir. Terlalu berat untuk melakukan
dosa besar itu.
“Masih belum jelas
juga?,sekarang juga kau gugurkan kandungan kau itu,karna aku tidak ingin anak
itu lahir.Apalagi anak itu darah daging suamiku sendiri,dan aku tidak
mengiginkan kau mengambil suamiku dari hidupku” suara Nyonya Arista menggema
bagaikan halilintar ditelingaku,yang benar-benar membuat aku kaget,ketika
Nyonya Arista menyebut bahwa bayi yang ada dirahimku adalah darah daging
suaminya.Tampa berkata
apa-apalagi,seketika tubuhku ambruk kelantai didepan Nyonya Arista.Dan
akupun tidak sadarkan diri.
******
Ketika siuman,kudapati diriku disebuah ruangan gelap dan
pengap.Mungkin ini ruangan bawah tanah,dimana aku sering disiksa dan
dianiaya,ini merupakan ruangan rahasia,hanya Nyonya dan Tuan saja yang tahu
ruang ini.
“Oh…ternyata kau sudah
siuman?”sebuah suara angkuh nan mengejek,menyapaku.Siapa lagi kalau bukan suara
Nyonya Arista.
“Sekarang kau ikut
aku,”dengan sangat kasar Nyonya Arista menyeretku keluar dari ruangan
itu,setiba di halaman depan sebuah mobil sedan hitam metalik berdiri angkuh
didepanku.Tidak jauh berbeda dengan pemiliknya.
“Cepat kau naik,aku
ingin hari ini urusan antara kau dan aku selesai.”
“Tapi
Nyonya,A..Aku.tidak ingin melakukan hal itu”
“Cepat naik,jangan
banyak bicara kau.pembantu sial”teriak Nyonya
Arista.Garang.
Aku tetap bersikeras tidak mengikuti Permintaan Nyonya,aku
sudah bertekat, meskipun cambukan itu mendarat ditubuhku beribu-ribu
kali,permintaan Nyonya tetap tidak akan sudi kulakukannya.Aku tidak akan pernah
melakukan hal yang paling dikutuk Allah.Seketika tamparan keras dan kasar
mendarat di wajahku,lalu Nyonya Arista menarik dengan sangat kasar jilbabku hingga
lepas.
“Dasar anak tidak tahu
diri,anak sialan,untuk apa kau memakai jilbab,sementara kau rela menyerahkan
kehormatan kau kepada suamiku!!”
“A…aku tidak tahu
apa-apa Nyonya,kapan Tuan melakukan perbuatan bejat itu kepadaku,seingat aku.Ketika
itu, Tuan pernah menyeretku kekamarku.Lalu T..tu…tuan menampar wajahku dengan
sangat keras hingga aku tak sadarkan diri,setelah itu aku tidak tahu apa yang
terjadi padaku,ketika aku siuman kudapati keadaanku seperti tidak terjadi
apa-apa.”
“Dasar pembohong!!!”dengan
sangat keras,bahkan lebih keras dari tadi,Nyonya Arista menamparku,kemudian
disusul jerat cambukan yang mengundang perih luar biasa.Aku mengerang kesakitan
luar biasa.
“Kau pikir aku percaya
dengan bualan kau. Gadis malang”
Seperti yang aku perkirakan,Nyonya pasti tidak akan percaya
dengan ucapanku,meskipun apa yang aku tuturkan adalah fakta.Kini,tangan
lembutnya,menjambak keras rambutku,rambutku terasa lepas dari kulitnya.Kemudian
dihantamnya batok kepalaku ke dinding beton, Ooooeo.Luar biasa sakit,batok
kepalaku terasa pecah berkeping-keping dan darah terasa berhamburan,mataku
berkunang-kunang dan suasana menjadi gelap.Kurasa tubuhku ambruk,dan aku tidak
sadarkan diri.
Ketika siuman,kudapati diriku terbaring didalam
kamar,dikepalaku masih menyisakan perih dan sakit luar biasa.Entah kenapa,
tiba-tiba dalam jiwaku membuncah seribu rindu yang tidak bisa dibendung oleh
apapun. Meskipun kepalaku pening bukan main. Diantar seribu rindu itu,yang
paling aku rindu adalah untuk hadir bercakap dan berdoa dihadapannya,dan yang
mampu meredam kerinduan itu,hanya sujud,iya, hanya sujudlah yang mampu meredam
kerinduan termasuk kerinduan kepada emak.Wajah emak menari-nari indah di depan
mataku,aku sujud berkali-kali di sudut kamar diatas sajadah pemberian emak,lalu
kuuntai hitungan tasbih dengan irama luar biasa syahdunya.Tampa kusadari
rupanya ada telinga yang merekam peristiwa itu,telinga yang telah merusak
hidupku,telinga yang sudah menghancurkan harapanku,telinga yang sudah
menghancurkan mimpi-mimpi indahku.Tuan Josef,ia tersenyum kepadaku,entah itu
senyum kemenangan atas hancurnya hidupku,entah itu senyum tulus,entah itu
senyum rasa bersalah atas perbuatannya.Yang jelas aku tidak terlalu mengerti
dengan senyuman itu,lebih tepatnya tidak perlu kumengerti atas senyumannya
itu,dari dalam hatiku yang paling dalam, aku sangat membenci pria tua itu.Akan
kutuntut dia dihadapan Allah diakhirat kelak.Tampa kugubris senyum itu,kusibukkan
diriku dengan untaian tasbih kepada Rabbi.Tampa kusadari Tuan Josef sudah
berada disampingku,masih dengan senyumnya.
“Halimah,apakah kau
masih rindu kepada emak kau?.”Tidak kugubris pertanyaan itu,toh harapan untuk
bertemu emak sangatlah tipis,tidak mudah seorang TKW bisa diberi peluang oleh
majikannya untuk pulang,apalagi keluarga Tuan Josef,keluarga paling sadis yang
pernah kutemui,aku masih larut dalam untaian tasbih.
“Aku siap membantu kau
untuk bertemu emak kau”Ujar tuan Josef
“Dan aku, tidak akan
pernah percaya atas bualan kau. Meunafik”Umpatku dalam hati.
******
Dibawah payung gerimis,Kupaksakan tubuh ini menyusuri
jalanan sepi,sebenarnya tubuhku tak sanggup lagi berjalan.Betisku membengkat,
ada bekas jeratan cambukan yang membiru disitu.Wajahku memerah,bekas siraman
air panas dan tamparan.Rambutku terurai tak terurus,dipunggungku banyak
jerat-jerat cambukan,perinya luar biasa.Akhirnya tubuh ini tumbang dan roboh.
Dan.Wajah itu,wajah itu bersih sekali,meskipun sudah
berkeriput,dan beruban,kini wajah itu tak lagi seperti dua puluh tahun yang
lalu,tapi meskipun berkeriput dan beruban senyum itu.Iya senyum itu,senyum itu
masih khas sekali,senyum pernuh arti,dan senyum penuh kemanjaan.Ingin ku kecup
kening pemilik senyum itu,tapi tak mampu.Jelas sekali kulihat wajah pemilik
senyum terindah itu.Sempat kulirik sebuah wajah tampan disampingnya,Ah wajah
itu…wajah paling terindah yang pernah kutemui dan wajah yang tidak asing lagi
dalam hidupku.Seutas senyum disodorkan kepadaku,tak kutunda waktu lagi,barang
setengah detik pun,langsung kubalas senyum terindah itu.Tubuhhku masih
menyisakan perih luar biasa,wajahku panas membara bagaikan kobaran api
menjilat-jilat.Kepalaku pusing bukan main,rasa-rasanya mataku tak sanggup lagi
memandang.Aku kembali tak sadarkan diri.
Kalaupun
Allah mengambil saya,saya ikhlas,asal aku sudah menikmati wajah tirus
kurus,keriput dan kering terbakar sinar matahari itu.Tapi ternyata Allah masih
memberi harapan untuk saya,bisa menatap dunianya yang Indah ini dan bahkan
mungkin bisa mencium wajah emak setiap saat.
TAMAT
Sigli,Rabu,21 November
2012.